This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Kamis, 24 Oktober 2013
Pustaka Bung Hatta (Bukit Tinggi)
08.56
Unknown
Rumah Kelahiran Bung Hatta (Bukit Tinggi)
08.56
Unknown
Rumah ini merupakan duplikat dari bangunan lama yang sudah hancur. Bangunan ini dibangun tahun 1994, kerjasama Pemerintah Kota Bukittinggi dengan Universitas Bung Hatta Padang. Rumah ini merupakan tempat kelahiran Bung Hatta, salah satu proklamator RI, terdiri dari 2 lantai.
Rumah ini salah satu museum yang patut dikunjungi. Selain itu rumah ini telah masuk menjadi Cagar Budaya Kota Bukittinggi yang dilindungi sesuai dengan Undang-undang No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Perwako No. 2 tahun 2012
Lokasi Rumah Kelahiran Bung Hatta sangat mudah dijangkau, berada di tepi jalan jl Soekarno Hatta no. 37. (daerah pasar bawah kota Bukittinggi).
Taman Monumen Bung Hatta(Bukit Tinggi)
08.54
Unknown
Taman Panorama Baru(Bukit Tinggi)
08.54
Unknown
Panorama(Bukit Tinggi)
08.52
Unknown
Taman Wisata Marga Satwa Dan Budaya Kinatan(Bukit Tinggi)
08.52
Unknown
Mesjid Jami'Birugo(Bukit Tinggi)
08.51
Unknown
Jembatan Limpapeh(Bukit Tinggi)
08.50
Unknown
Janjang Seribu(Bukit Tinggi)
08.49
Unknown
Istana Bung Hatta(Bukit Tinggi)
08.48
Unknown
Benteng Fort De Kock(Bukit Tinggi)
08.48
Unknown
Ngarai Sianok(Bukit Tinggi)
08.47
Unknown
Lubang Jepang(Bukit Tinggi)
08.47
Unknown
Lubang ini sebenarnya lebih tepat disebut terowongan (bunker) Jepang. Dibangun tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan tentara Jepang dalam PD II dan perang Asia Timur Raya (Dai Tora Senso) atas perintah pemerintah militer Angkatan Darat Jepang (Tentara Kedua Puluh Lima) untuk Sumatera berkedudukan di Bukittinggi dengan Komandan Tentara Pertahanan Sumatera Jend. Watanabe. Terakhir komandemen militer se Sumatera dipimpin oleh Seiko Seikikan Kakka yaitu Jend. Kabayashi, Walikota terakhir Sito Ichori. Bukittinggi dengan nama Shi Yaku Sho meliputi Kurai Limo Jorong dan juga mencakup Ngarai Sianok, Gaduik, Kapau, Ampang Gadang, Batutaba dan Bukit Batabuah. Lubang Jepang memiliki panjang sekitar 1400 m dan lebar ± 2 m.
Lobang Jepang panorama yang berada di Jalan Panorama, Kelurahan Bukit Cangang kayu Ramang, kecamatan Guguk Panjang Kota Bukittinggi.
Para pekerjanya kebanyakan didatangkan dari Jawa yang dibawa Jepang untuk bekerja secara paksa membuat terowongan sepanjang 1.470 m dalam waktu cukup singkat, sehingga memakan korban jiwa yang tidak sedikit.
Goa atau lobang Jepang ini dibuat pada kedalaman 40 – 50 m di bawah tanah bercadas yang cukup keras.
Di dalam terowongan yang garis tengah dan tingginya 2 m terbagi menjadi 20 kamar yang terdiri dari kamar tidur, ruang persembunyian, ruang perawatan, ruang dapur, ruang penjara dan gudang amunisi. Ruangannya sengaja dibuat berliku-liku dengan sejumlah ruangan jebakan
Dua mulut terowongan yang sampai saat ini dapat di lihat, satu mengarah ke Ngarai Sianok dan yang lainnya merupakan pintu yang mengarah ke Pusat Kota Bukittinggi. Fngsi dari mulut terowongan selain sebagai pintu masuk juga sebagai ventilasi untuk mengawasi dunia luar.
Lobang Jepang ini sekarang berfungsi sebagai tempat wisata. Menjadi satu bagian dengan obyek Wisata Taman Panorama.
Jam Gadang(Bukit Tinggi)
08.46
Unknown
Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya. Hal tersebut dapat ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Namun saat Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau.
Dari menara Jam Gadang, para wisatawan bisa melihat panorama kota Bukittinggi yang terdiri dari bukit, lembah dan bangunan berjejer di tengah kota yang sayang untuk dilewatkan.
Saat dibangun biaya seluruhnya mencapai 3.000 Gulden dengan penyesuaian dan renovasi dari waktu ke waktu. Setiap hari ratusan warga berusaha di lokasi Jam Gadang. Ada yang menjadi fotografer amatiran, ada yang berjualan balon, bahkan mencari muatan oto (kendaraan umum) untuk dibawa ke lokasi wisata lainnya di Bukittinggi.
“Jam Gadang ini selalu membawa berkah buat kami yang tiap hari bekerja sebagai tukang foto dan penjual balon di sini. Itu sebabnya jam ini menjadi jam kebesaran warga Minang,” ujar Afrizal, salah seorang tukang potret amatir di sekitar Jam Gadang.
Untuk mencapai lokasi ini, para wisatawan dapat menggunakan jalur darat. Dari kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam perjalanan menggunakan angkutan umum. Setelah sampai di kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota ke lokasi Jam Gadang.
Museum Saintific Sejarah Alam Bawah Tanah.(Bukit Tinggi)
08.45
Unknown
Museum Tri Daya Eka Dharma(Bukit Tinggi)
08.45
Unknown

